1. A Page Called Deshinta
Hai, aku Deshinta Ramadhani Arzis, tetapi banyak orang mengenalku sebagai Dedes. Awalnya, aku kurang suka dengan panggilan itu, tetapi entah bagaimana nama tersebut terus melekat sampai sekarang.
Aku mungkin terlihat pendiam dan tenang saat pertama kali bertemu. Namun, bersama orang-orang yang membuatku nyaman, aku bisa menjadi jauh lebih ramai dan suka bercanda. Ada satu kalimat yang cukup menggambarkan diriku: diam di mulut, berisik di pikiran. Aku masih belajar untuk lebih percaya diri dan tidak terlalu lama terjebak dalam pikiranku sendiri.
2. If My Heart Had a Flower
Aku belum punya warna atau bunga favorit yang benar-benar pasti. Barang-barangku kebanyakan berwarna hitam dan pink sampai teman-temanku menjulukiku Blackpink, meskipun aku juga menyukai warna maroon.
Pernah ada yang bilang kepribadianku seperti mawar putih. Aku sendiri belum tahu alasannya, tetapi mungkin aku memang masih seperti bunga yang sedang tumbuh—belajar mengenal diri sendiri dan menemukan caraku untuk mekar.
3. The Little Things I Collect
Aku menyukai martabak manis, makanan berbahan keju, dan cokelat, terutama sebagai hadiah kecil setelah menyelesaikan tugas. Belakangan ini, aku juga menikmati lagu Sore Sebelum Hujan karena suasananya yang menenangkan.
Salah satu buku yang membekas bagiku adalah novel Islami Di Waktu Dhuha, dengan kalimat yang masih kuingat: “Jika banyak orang mengagumi senja, maka aku lebih mencintai Duha.” Kalimat itu mengingatkanku pada guru SD yang pernah mengajarkan kisah para nabi dan keutamaan salat Duha. Kenangan itu masih berarti bagiku, sekaligus menjadi pengingat bahwa selalu ada kesempatan untuk kembali mendekat pada hal-hal baik yang pernah kita pelajari.
4. Stories That Made Me
Masa SMP menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam hidupku, terutama karena lingkaran pertemanan yang membuatku nyaman menjadi diri sendiri. Meskipun sempat berbeda kelas, kami tetap dekat sampai SMA. Dari mereka, aku belajar bahwa pertemanan yang baik tidak harus selalu tentang hadir setiap waktu, tetapi tentang saling menghargai tanpa membuat satu sama lain merasa rendah.
Saat baru masuk SMA, aku justru menjadi sangat pendiam hingga beberapa teman menyadarinya. Namun, seiring waktu dan setelah bertemu orang-orang yang cocok denganku, aku mulai lebih terbuka. Aku belajar bahwa bertumbuh bukan berarti harus mengubah seluruh diri kita, melainkan memberi diri sendiri kesempatan untuk berkembang.
5. Things I Am Still Becoming
Aku punya impian untuk berkuliah di Universitas Padjadjaran, mengambil jurusan Sastra Jerman, dan meraih hasil terbaik yang bisa kuusahakan. Aku ingin mendapatkan pekerjaan yang baik, menjelajahi dunia, dan yang paling penting, membuat orang tuaku bahagia setelah semua pengorbanan mereka.
Arab Saudi menjadi salah satu tujuan impianku karena aku ingin pergi haji atau umrah bersama orang tua. Aku juga ingin mengunjungi Jerman, melihat salju, dan merasakan pergantian musim bersama teman-teman SMP. Sementara itu, Dubai menjadi impian lain yang tidak lepas dari candaan bersama teman-teman SMA tentang menjadi sultan Dubai—dan tentu saja, mencoba berbagai macam cokelat di sana.
6. A Little Light from Glowline
Glowline berawal ketika aku baru memasuki SMA Negeri 1 Majalengka. Aku cukup kewalahan menghadapi tugas yang semakin beragam, mulai dari presentasi, PPT, peta konsep, hingga ujian lisan. Aku sering bingung menentukan mana yang harus dikerjakan lebih dahulu, lalu mencoba mencatat semuanya secara manual dan mencari aplikasi pengatur tugas yang sesuai kebutuhanku.
Karena belum menemukan aplikasi yang benar-benar cocok, aku mulai membayangkan study companion yang ingin kugunakan sendiri. Dari situlah Glowline lahir sebagai ide aplikasi untuk membantu pelajar mengatur tugas, menentukan prioritas, membagi pekerjaan menjadi langkah kecil, dan menjaga fokus. Bersama Lumi, maskot kecil yang menjadi teman penyemangat, aku ingin Glowline membantu pelajar merasa bahwa mereka tidak harus menghadapi semua tugas sekaligus.
Kamu nggak harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Hal besar dimulai dari langkah-langkah kecil, dan setiap langkahmu berarti.
7. Before You Turn the Page
Aku masih menjadi seseorang yang terus belajar—belajar percaya diri, mengurangi kekhawatiran, dan menerima bahwa perjalanan setiap orang tidak selalu sama. Ada yang memulai lebih dahulu, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, dan keduanya tetap berhak bangga atas usaha masing-masing.
Untuk diriku di masa depan, aku ingin berpesan: Setiap orang punya titik mulai yang berbeda. Kamu hebat karena sudah mau bertahan dan terus berjalan, bahkan ketika rasanya harus mengejar orang lain. Apa pun hasilnya nanti, aku akan tetap bangga sama kamu. Terima kasih sudah berjuang sampai sejauh ini.
Dan untuk kamu yang membaca halaman ini, semoga kamu juga tidak lupa menghargai langkahmu sendiri. Kamu tidak harus sampai di tujuan hari ini. Terkadang, keberanian untuk terus berjalan saja sudah berarti banyak.
— Deshinta Ramadhani Arzis
The person behind Glowline ✨